Home Budaya Abnormal Baru Di Tangan Pelukis Abnormal

Abnormal Baru Di Tangan Pelukis Abnormal

273
Semua Bermula dari Kata, spidol di atas kertas, detil, 2019, Foto-foto: Raihul Fadjri

Perjalanan kreatif pengidap disabilitas mental dalam dunia seni lukis.

Terasmedan – Ruang pamer Jogja Gallery, Yogyakarta, penuh karya lukis berukuran gigantik (4 sampai 6 meter persegi) hingga berukuran kecil (40 sentimeter persegi). Yang menarik, karya-karya berukuran besar itu terdiri dari susunan karya berukuran kecil yang sebagian besar berisi bentuk-bentuk unggas (ayam, burung) dalam warna-warna yang kuat dan diramaikan dengan sederet teks tertulis.

Lukisan dan gambar pada pameran bertajuk Abnormal Baru yang berlangsung pada 12 – 22 Oktober 2021 itu adalah karya Dwi Putro. “Pameran ini dikurasi oleh Sudjut Dartanto, Dwi Oktala, Tomi Firdaus.” Dwi adalah penyandang tuna rungu dan disabilitas mental kelahiran Yogyakarta 58 tahun lalu. Dari karyanyanya memang muncul ‘kegilaan’ dengan menampilkan lukisan-lukisan berukuran kecil yang penuh berisi citraan bentuk anak ayam (Harapan, 2019-2020) dalam warna-warna cerah tapi dibingkai dalam warna hitam.

Harapan, akrilik di atas kanvas, detil 2019-2020

Pada karya yang menampilkan bentuk burung, Dwi Putro, menambahinya dengan teks tertulis berupa kalimat-kalimat sederhana di atas delapan kanvas (Jalan Setapak Tak Berakhir, 2019; Semua Bermula dari Kata, 2019).

Beberapa karya menampilkan seri potret figur. Ada yang bertema pandemi Covid-19 (Masker, 2020; Bertahan, 2020), seri potret bebas (Semangat…. Semangat Terus Berkarya, 2020), dan seri alam benda antara lain berupa bentuk ember, kendi, mangkok minuman, buah salak, kates (Trilogi Kenyamanan, 2021), bahkan seri karya bercorak abstrak (Garis Kehidupan, 2019). Semuanya digarap dengan goresan kuas yang sederhana dalam warna-warna cerah.

Dwi seolah melampiaskan energinya pada karya yang juga bercorak abstrak bertajuk Ruwat (2019) berupa cipratan cat di atas 120 panel berwarna dasar hitam, masing-masing berukuran 40 x 40 sentimeter dan masih ditambahi dengan teks tertulis sebagaimana karya lain yang juga berhiaskan teks tertulis. “Pak Wi memiliki gangguan mental yang memperkuat hasratnya menulis, meski dengan kata-kata yang melompat-lompat,” ujar Nawa Tunggal, adik Dwi Putro.

Memetik Bunga untuk Jambangan, akrilik di atas kanvas, 2013

Nawa Tunggal lah yang membawa saudara tuanya yang mengidap disabilitas mental ini ke dalam dunia seni lukis. Pak Wi (Dwi Putro) mempunyai hobi menggambar sejak kecil. Dia belajar melukis sendiri,” kata Nawa.

Dwi Putro adalah putra kedua dari 10 bersaudara. Adapun Nawa Tunggal (47) anak ke sembilan. Suatu Ketika, sekitar 1983 Nawa menyaksikan Dwi berteriak-teriak keras sepanjang malam. Kata-kata yang diingatnya, “Wani, piye?” (Berani, ya?) Ucapan itu ditujukan pada adiknya, Tri Atmojo Putro. Tri dalam ketakutannya ketika itu harus diamankan dan dikunci di kamar. Sementara Dwi di luar pintu terus meneriakkan kata-kata itu dari petang hingga pagi. Bayangkan. “Ini seperti kiamat kecil di rumah,” ujar Nawa.

Nawa berpikir, semalaman Dwi sedang sakit dan semestinya harus dibantu. Nawa pun memutuskan membantu saudaranya lewat kegiatan melukis pada 2000-2001. “Saya menyediakan media melukis, tiba-tiba saja Pak Wi (Dwi Putro) suka sekali melukis tak henti-hentinya,” katanya.

Masker, spidol di atas kertas, detil, 2020

Menurut Nawa, Dwi kerap bertanya padanya: harus menggambar apa? Nawa memberi gagasan seperti menyediakan model wayang dan buku tentang flora dan fauna. Bentuk ayam yang erat kaitannya dengan masa kecil Dwi yang suka membantu ibunya beternak ayam buras petelur dan pedaging. “Pak Wi suka mengamati anak-anak ayam,” ujar Nawa. Menurut dia, bentuk-bentuk ayam dan burung sebagai metafora emosi jiwanya yang ingin seperti burung terbang bebas.

Pada 2007, Nawa mendapat motivasi dari perupa, Samuel Indratma, di Yogyakarta untuk menghadirkan karya Dwi di ruang publik. Berbagai kegiatan dan pameran pun kemudian dia jalani di Yogyakarta, Jakarta, Bali, Bandung, hingga Jepang (Borderless Art No-Ma Museum, kota Omihachiman) pada tiga kali pameran antara 2018-2020.

Dwi Putro dan Nawa Tunggal berkolaborasi memasuki kehidupan abnormal baru.#