Home Gaya Hidup BPOM Temukan Obat Berbahaya, Diklaim Anti-Covid

BPOM Temukan Obat Berbahaya, Diklaim Anti-Covid

72
Obat Covid-19. Ilustrasi. Foto/ist

By RFX – 13 Oktober 2021

Bahan kimia berbahaya efedrin dan pseudoefedrin beredar di masyarakat yang disebut sebagai obat pencegahan dan penyembuhan Covid-19.

Terasmedan – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan peningkatan peredaran obat tradisional, suplemen kesehatan, serta kosmetik yang mengandung bahan kimia berbahaya selama pandemi Covid-19. Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik BPOM Reri Indriani menduga, peningkatan peredaran itu erat kaitannya dengan kondisi pandemi Covid-19.

Reri mengatakan, berdasarkan temuan di lapangan, produk berbahaya itu menarik minat masyarakat lewat klaim menjaga kesehatan maupun daya tahan tubuh dari Covid-19. “Sepanjang pandemi ini BPOM secara rutin melakukan kegiatan sampling dan pengujian terhadap produk yang dikaitkan dengan penanganan pandemi Covid-19,” ujar Reti dalam konferensi pers, Rabu (13/10).

BPOM mencatat, ada 53 jenis obat tradisional, 1 suplemen kesehatan, dan 18 kosmetik yang mengandung bahan kimia berbahaya dan dijual secara bebas di masyarakat. Reri menjelaskan, temuan tersebut berasal dari 73 Unit Pelaksana Teknis (UPT) BPOM yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia selama periode Juli 2020-September 2021.

Reri mengatakan, pihaknya juga menemukan kecenderungan penggunaan jenis bahan kimia berbahaya tertentu yang baru ditemukan pada masa pandemi Covid-19 ini. “Penggunaan bahan kimia berbahaya efedrin dan pseudoefedrin yang sebelum pandemi hampir tidak pernah ditemukan sebagai Bahan Kimia Obat (BKO) dalam obat tradisional,” katanya.

Dia mengingatkan, penggunaan jenis bahan kimia itu sebagai pencegahan dan penyembuhan Covid-19 tidak tepat, bahkan berbahaya.

Dari hasil kajian yang melibatkan para ahli dan asosiasi profesi kesehatan dalam negeri, obat tradisional yang mengandung bahan kimia itu terbukti tidak dapat menahan laju keparahan pasien Covid-19. “Tidak menurunkan angka kematian dan tidak mempercepat konversi hasil swab test menjadi negatif,” ujarnya.

Terlebih, tanaman Ephedra Sinica yang secara alami mengandung bahan kimia itu juga telah dilarang sebagai bahan Obat Tradisional dan Suplemen Kesehatan sesuai PerkaPOM Nomor HK.00.05.41.1384 Tahun 2005 dan PerBPOM Nomor 11 Tahun 2020.

Reri mengatakan, selama masa pandemi pembelian memakai sistem daring cenderung meningkat, sehingga rawan disalahgunakan. Maka dia mengimbau masyarakat hanya membeli obat dan makanan yang mencantumkan izin edar BPOM sehingga mutu dan kualitas makanan bisa dipertanggungjawabkan.

Selalu cek kemasan, label, izin edar, dan kadaluarsa produk yang ingin dibeli. Pastikan ada izin edar dari BPOM,” ujarnya.#

Sumber: CNN Ind

Bahan kimia berbahaya efedrin dan pseudoefedrin beredar di masyarakat yang disebut sebagai obat pencegahan dan penyembuhan Covid-19.

Terasmedan – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan peningkatan peredaran obat tradisional, suplemen kesehatan, serta kosmetik yang mengandung bahan kimia berbahaya selama pandemi Covid-19. Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik BPOM Reri Indriani menduga, peningkatan peredaran itu erat kaitannya dengan kondisi pandemi Covid-19.

Reri mengatakan, berdasarkan temuan di lapangan, produk berbahaya itu menarik minat masyarakat lewat klaim menjaga kesehatan maupun daya tahan tubuh dari Covid-19. “Sepanjang pandemi ini BPOM secara rutin melakukan kegiatan sampling dan pengujian terhadap produk yang dikaitkan dengan penanganan pandemi Covid-19,” ujar Reti dalam konferensi pers, Rabu (13/10).

BPOM mencatat, ada 53 jenis obat tradisional, 1 suplemen kesehatan, dan 18 kosmetik yang mengandung bahan kimia berbahaya dan dijual secara bebas di masyarakat. Reri menjelaskan, temuan tersebut berasal dari 73 Unit Pelaksana Teknis (UPT) BPOM yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia selama periode Juli 2020-September 2021.

Reri mengatakan, pihaknya juga menemukan kecenderungan penggunaan jenis bahan kimia berbahaya tertentu yang baru ditemukan pada masa pandemi Covid-19 ini. “Penggunaan bahan kimia berbahaya efedrin dan pseudoefedrin yang sebelum pandemi hampir tidak pernah ditemukan sebagai Bahan Kimia Obat (BKO) dalam obat tradisional,” katanya.

Dia mengingatkan, penggunaan jenis bahan kimia itu sebagai pencegahan dan penyembuhan Covid-19 tidak tepat, bahkan berbahaya.

Dari hasil kajian yang melibatkan para ahli dan asosiasi profesi kesehatan dalam negeri, obat tradisional yang mengandung bahan kimia itu terbukti tidak dapat menahan laju keparahan pasien Covid-19. “Tidak menurunkan angka kematian dan tidak mempercepat konversi hasil swab test menjadi negatif,” ujarnya.

Terlebih, tanaman Ephedra Sinica yang secara alami mengandung bahan kimia itu juga telah dilarang sebagai bahan Obat Tradisional dan Suplemen Kesehatan sesuai PerkaPOM Nomor HK.00.05.41.1384 Tahun 2005 dan PerBPOM Nomor 11 Tahun 2020.

Reri mengatakan, selama masa pandemi pembelian memakai sistem daring cenderung meningkat, sehingga rawan disalahgunakan. Maka dia mengimbau masyarakat hanya membeli obat dan makanan yang mencantumkan izin edar BPOM sehingga mutu dan kualitas makanan bisa dipertanggungjawabkan.

Selalu cek kemasan, label, izin edar, dan kadaluarsa produk yang ingin dibeli. Pastikan ada izin edar dari BPOM,” ujarnya.#

Sumber: CNN Indonesia