Home Budaya Catatan Visual Masa Pandemi Covid-19 di Ruang Pameran

Catatan Visual Masa Pandemi Covid-19 di Ruang Pameran

216
SINTA CAROLINA | We'are in This Together | Drawing on Paper | Detil | 14,8 x 12 Cm | 2021. Foto-foto: Raihul Fadjri

Masa pandemi Covid-19 mendorong seniman berkarya secara hemat, tapi tetap kreatif dan estetik.

Terasmedan – Sebanyak 48 kertas seukuran kertas buku tulis berisi gambar potret tokoh, mulai dari mantan imam besar FPI Rizieq Shihab hingga rocker I Gede Jerinx Aryastina, dari Presiden Joko Widodo hingga Ratu Kerajaan Inggris Elizabeth II.

Semua figur publik itu mengenakan masker yang menjadi salah satu perlengkapan yang berubah menjadi aksesoris yang harus dipakai setiap berada di ruang publik selama hampir dua tahun pandemi Covid-19 ini. Masker yang sebelumnya hanya dipakai tenaga medis saat di ruang operasi di rumah sakit, sejak pandemi Covid-19 tidak hanya menjadi bagian dari protokol kesehatan, tapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup.

Deretan gambar itu merupakan karya Sinta Carolina yang dipajang pada pameran bertajuk Self Documentary di Poison Art Spece, Yogyakarta, 30 September – 14 Oktober 2021. Yang menarik, Sintatidak cuma menampilkan citraan figur manusia memakai masker berbentuk masker konvensional seperti yang biasa dipakai tenaga kesehatan pada karya gambar bertajuk We’are in This Together  (2021), tapi juga berbagai bentuk masker yang tak biasa.

Dari yang berbentuk penutup mulut yang biasa dipakai pekerja bangunan yang terbuat dari bahan sintetis, hingga yang berbentuk celana dalam. Bahkan dari masker berbentuk sepatu hingga masker berbentuk piringan disk dengan tulisan: Anti Virus.

CAHAYA NOVAN | Underwater Dialogue | Variable Dimentions | Acrylic on Paper | Detil | 2021 – TINA WAHYUNINGSIH | Para Pemakan Ikan | Acrylic on Paper |21 x 29,5 Cm | 2021

Masker menjadi penanda penting suatu peristiwa, sekaligus sebagai fashion baru masyarakat,” tulis Karen Hardini pada text wall pameran ini.

Selain Sinta Carolina, pameran ini juga menghadirkan karya Dwe RahmantoTina Wahyuningsih, dan Cahaya Novan. Karen menjelaskan, pameran ini merupakan upaya mendokumentasikan diri lewat beragam karya yang merupakan hasil penglihatan, pemikiran dan ingatan dari proses yang kompleks. “Memori dihadirkan secara dokumentatif dan naratif yang mengandung harapan, kejenakaan, juga ironi,” ujar Karen.

Penggunaan medium kertas pada semua karya, karena dinilai lebih praktis. “Kertas seringkali berperan sebagai catatan memori yang terakumulasi menjadi dokumen pribadi dalam bentuk gambar,” katanya.

Karya gambar Dwe Rahmanto misalnya, memaparkan narasi tentang kehidupan sehari-hari yang dia lihat dan rasakan selama pandemi Covid-19, khususnya di kalangan ibu rumah tangga saat menghadapi situasi sulit menyedikan makan untuk keluarga pada karya bertajuk Masak Apa Hari Ini (2021), atau Apa yang Kamu Makan Hari Ini (2021).

DWE RAHMANTO | Ketahanan Pangan Ayam | 25 x 17 Cm | Drawing on Paper | 2021

Sedang Tina Wahyuningsih muncul dengan suasana berbau sureal dengan eksplorasi warna yang kuat pada karya bertajuk Para Pemakan Ikan (2021), atau Just Exhale (2021).

Adapun Cahaya Novan mengeksplorasi bentuk-bentuk hewan laut dengan sentuhan gaya dekoratif dengan polesan warna-warna yang menyenangkan di atas media kertas lewat karya Underwater Dialogue (2021) yang dia tempelkan langsung di dinding, maupun karya seri Cigarette After Sex (2021).

Pandemi Covid-19 mendorong mereka berkarya dengan cara yang hemat, tapi tetap kreatif dan estetik.#