Home Budaya Cek Ombak Atas Nama Pembangunan

Cek Ombak Atas Nama Pembangunan

194
AGUSTAN, Nina Bobo, 130 x 110 Cm, Oil and Acrylic on Canvas, Detil, 2021 Foto-foto: Raihul Fadjri

Konflik kepentingan antara petani dengan pemerintah menjadi narasi karya.

Terasmedan – Ketika sebagian seniman visual merapat ke lingkaran kekuasaan, sejumlah seniman visual yang sedang memajang karyanya di Langgeng Art FoundationYogyakarta, pada 17 September – 17 November 2021, malah mengkritisi penguasa. Pameran yang yang berjudul Cek Ombak#1 sebagai metafora untuk melihat dampak dari suatu tindakan penguasa. “Cek ombak sebagai satu perilaku ketika orang ingin melihat dampak dari sudut tindakan yang akan dia lakukan,” tulis Bambang Muryanto dalam katalog pameran.

Bambang yang berprofesi sebagai jurnalis ini merujuk pada konflik warga Desa WadasKabupaten PurworejoJawa Tengah, dengan pemerintah ihwal penambangan batu andesit yang dilabeli sebagai proyek strategis nasional. Batu andesit itu akan dipakai untuk pembangunan Waduk Bener.

Penduduk Wadas menolak surat keputusan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang menetapkan lahan milik rakyat Wadas untuk  penambangan batu andesit, sebab proyek itu menggusur lahan tempat mereka bertani selama ini. Penduduk tidak mau kehilangan tanah yang menjadi sumber kehidupan mereka sebagai petani. “Bila tidak memiliki tanah apa artinya menjadi petani? Ujar Bambang.

AGUNG NUGROHO, Scientific Myth, 80 x 60 Cm, Acrylic on Canvas, 2020

Pendudukpun melawan. Aparat kepolisian pun dikerahkan untuk membubarkan petani yang sebagian besar kaum perempuan dari Gerakan Wadon Wadas memprotes lewat unjuk rasa pada Jumat 23 April 2021. Aksi protes itu berujung bentrokan antara warga dengan aparat kepolisian.

Katanya pemerintah mau mengurangi angka kemiskinan, kenapa malah menindas petani. Hak atas tanahnya dihilangkan, petani di Wadas mau kerja apa?” ujar mbah Sastro, tokoh Desa Wadas, sebagaimana dikutip Bambang Wuryanto dalam tulisannya.

DICKO AYUDYA, Makan Nasi Dalam Negeri, 130 x 130 Cm, Mixwd Media on Canvas, 2021

Benturan konflik kepentingan antara pemerintah dengan rakyat inilah yang muncul di atas kanvas sejumlah pelukis. Ada sejumlah karya menarik yang berisi narasi konflik antara pemerintah dengan rakyat. Pada karya lukis Agung Nugroho (Ritme Kekuasaan, acrylic on canvas, 2021), misalnya muncul figur berkepala gajah dengan belalai yang di bagian atas berhiaskan mahkota menyemburkan asap hitam hingga menutup langit. Sementara kulitnya penuh tonjolan guratan yang dibagian pinggul diselimuti bentuk mirip kain bercorak batik dan bentuk dedaunan. Karya ini bak menggambarkan kekuasaan yang bersikap kasar secara telanjang merusak lingkungan.

Pelukis Syam Terajana meminjam praktek penindasan pada masa kolonial yang justru dilakukan pasukan KNIL berkulit coklat bertugas  menindas saudaranya sendiri pada dua karya lukisnya (Kisah yang Belum Terlalu Punya Definisi, 2021; Dari Medan yang Menggemaskan, 2021).

Pembangunan tak cuma menggusur penduduk pedesaan, tapi juga penduduk kampung di perkotaan yang harus hengkang dari berpetak-petak rumah untuk digantikan deretan gedung menjulang (Rahayu RetnaningrumBorderless World, 2019).       

Penggusuran atas nama pembangunan hanya menyisakan kenangan, seperti pada karya lukis Dikco Ayudyia (Makan Nasi dalam Negeri, 2021; Memories, 2021) berupa lesung penumbuk padi, ayam, dan sapi dalam komposisi warna cerah seolah menggambarkan kebahagiaan masa lalu.

Dari karya tiga dimensi Agung Suryanto, terbaca praktek kekuasaan itu bak mesin yang menghasilkan oksigen untuk bisa menghidupi kekuasaan (The Heart of Machine, 2021) yang dinikmati hanya oleh segelintir kaum oligarki dan pengusaha pendukungnya.

AGUNG SURYANTO, The Heart Machine, 123 x 42 x 45 Cm, Rubber, Iron, 2021

Sedang karya lukis Agustan (Nina Bobo, 2021) bak perayaan praktek perselingkuhan antara penguasa dan pengusaha atas nama pembangunan, berupa dua figur berjas lengkap dengan kepala bertanduk duduk mengapit sosok yang juga mengenakan jas lengkap dua sedotan minuman di lehernya, duduk nyaman di kursi kekuasaan yang berhiaskan ukiran tradisional.“Narasi pembangunan selalu memakan korban rakyat kecil,” tulis Bambang Muryanto.#