Home Intelektual Demokrasi Hebat

Demokrasi Hebat

107

Oleh

Benget Silitonga

Kamala Haris sedang mendunia. Namanya bergema, menjadi idola disanjung gegap gempita. Perempuan, hitam, anak imigran Asia Amerika itu menjadi perempuan pertama sebagai Wakil Presiden AS.

Kamala memang sungguh fenomenal. Ia seakan mengulangi momen dramatis historikal 12 tahun lalu ketika Obama menjadi lelaki hitam dari keturunan Afrika Amerika pertama yang menjadi Presiden AS. Sebuah pencapaian politik sensasional bagi kalangan demokrat yang liberal.

Hebatkah Kamala dan Obama? Bisa jadi. Namun dalam perspektif berbeda, bagi kalangan Rrepublikan yang konservatif, Trump yang dianggap “asli” american, agresif, kontroversial dan “rasis” empat tahun lalu adalah juga hebat, saat terpilih menjadi Presiden AS. Ia seakan menjadi personifikasi Amerika yang genuine. Bahkan  Geroge W. Bush yang kuno, veteran, gemar perang, dan menjadi Panglima “Desert Storm” menyerbu Kuwait tahun 1992 yang lalu adalah juga hebat. Kalau demikian, lalu apakah yang hebat?

Mereka semua hebat pada waktunya. Namun demokrasilah yang sesungguhnya lebih hebat. Tanpa mengurangi reputasi dan keistimewaan sosok Kamala, Obama, dan Trump, demokrasilah yang sejatinya sungguh istimewa. Demokrasilah yang membuat Trump dapat terpilih berkuasa, dan kemudian juga “menghukumnya”. Demokrasilah yang memberi ruang dan peluang bagi Obama, Trump, dan Kamala berkontestasi  secara terbuka dan damai meraih mandat rakyat Amerika. Demokrasi jugalah kelak yang akan menilai Biden dan Kamala 4 tahun yang akan datang, apakah visi mereka menjadi nyata atau hanya sekadar retorika.

Ya, demokrasi membuat setiap orang menjadi bernilai setara. Demokrasi juga yang memungkinkan visi dan nilai senantiasa dipertarungkan dan menghidupi politik. Demokrasi yang memungkinkan negara menjadi rumah besar bagi siapapun untuk hidup meraih mimpinya. Sehingga seorang putri imigranpun bisa menjadi orang kedua di gedung putih. Demokrasi membuat negara menjadi mungkin bagi siapapun untuk meraih mimpi. Mengekspresikan visi, nilai dan keyakinan politik dan kemudian meraih kepercayaan rakyat untuk mewujudkannya. Demokrasi memastikan daulat rakyatlah yang terhormat, mulia untuk menentukan haluan dan kepemimpinan negara; bukan suku, agama, kelompok atau golongan.

Tanpa demokrasi yang sedemikian, bisa jadi ada banyak “Kamala”, “Obama”, dan bahkan “Trump” yang tumbuh, bergelut, bertarung, berjuang, di berbagai tempat namun kemudian terasing, tersisih, disingkirkan dan atau gugur ditelan waktu karena tidak mungkin mendapatkan kesempatan untuk berkontestasi secara politik meraih kepercayaan rakyat untuk mewujudkan mimpi, visi, dan keyakinan politiknya. Tanpa demokrasi yang sedemikian sejarah politik akan terasa datar, monoton dan membosankan.

Lalu bagaimana dengan kita? Sudahkah demokrasi dan politik kita menjadi tempat yang memungkinkan bagi siapapun untuk meraih mimpi, meyakini visi politiknya dan berkontestasi meraih kepercayaan rakyat? Sudahkah kita, rakyat, berdaulat menggunakan kekuatan suaranya secara terhormat untuk mengubah masa depan, bukan untuk mempertahankan kelompok, golongan, suku dan agama serta politik transaksional? Ehm…..

Satu hal yang pasti, sulit rasanya kita melihat aneka bunga tumbuh mekar, tanpa menyirami, memupuk tanah dan merawatnya. Sulit rasanya kita melihat “Kamala”, “Obama” atau “Trump” merk Indonesia hadir tanpa menyiapkan dan merawat rumah tempat mereka bisa hidup. Kecuali mereka tumbuh sebagai individu atau personal yang super hebat yang bisa mekar di tanah gersang.

Tapi bukan itu yang terpenting bagi demokrasi. Sebab  demokrasi bukan semata tentang individu atau personal super hebat, tapi juga tentang visi, nilai dan aksi rakyat untuk  senantiasa mengawasi dan mengontrol (pemimpin) kekuasaan agar bekerja demi tumbuh mekarnya kesetaraan, keadilan dan kesejahteraan bersama!

Penulis adalah Aktivis dan Komisioner KPU Sumut