Home Headline Gara-gara Belum Divaksin, Polisi Tolak Korban Dugaan Pemerkosaan

Gara-gara Belum Divaksin, Polisi Tolak Korban Dugaan Pemerkosaan

65
Polisi menolak membuat surat tanda bukti lapor karena pelaku pemerkosaan tidak diketahui identitasnya. Foto/ist

By RFX – 19 Oktober 2021

Polisi juga menolak membuat surat tanda bukti lapor karena pelaku pemerkosaan tidak diketahui identitasnya.

Terasmedan – Ketika belakangan ini peran Kepolisian  mendapat sorotan, seorang mahasiswi di Aceh Besar yang mengaku menjadi korban upaya pemerkosaan ditolak saat hendak melaporkan peristiwa itu ke Polresta Banda Aceh. Alasan polisi saat itu, karena wanita itu belum divaksin Covid-19. Anggota Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Banda Aceh, Qodrat yang mendampingi kasus itu membenarkan kliennya ditolak saat hendak melaporkan peristiwa itu ke kantor polisi.

Peristiwa penolakan itu terjadi pada Senin (18/10). Saat itu LBH Banda Aceh dan korban mendatangi Polresta Banda Aceh. Tapi petugas jaga di pintu gerbang melarang mereka masuk karena korban belum divaksin. Hal yang sama juga terulang saat rombongan yang hendak melapor itu berada di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polresta Banda Aceh. Petugas tidak merespons mereka karena belum vaksin.

Polisi itu bilang, kalau tidak ada sertifikat vaksin tidak boleh masuk. Setelah di SPKT hal yang sama terulang, yaitu jika belum ada sertifikat vaksin tidak bisa dibuat laporan,” ujar Qodrat kepada wartawan, Selasa (19/10).

Qodrat menjelaskan, korban memiliki riwayat penyakit yang menyebabkan dia tidak bisa divaksin. Korban juga memiliki surat keterangan dari dokter bahwa tidak bisa divaksin. “Korban sudah bilang, dia tidak bisa divaksin, kemudian petugas di sana mengatakan harus ada surat keterangan, tapi di SKPT tetap menolak (membuat laporan),” katanya.

Karena ditolak di Polresta Banda Aceh, lantas LBH Banda Aceh dan korban melaporkan ke Polda Aceh. Di sana, mereka diterima oleh petugas SPKT. Tapi, kali ini petugas menolak menerbit surat tanda bukti lapor (STBL) karena identitas pelaku tidak diketahui.

Qodrat mengatakan, kepolisian tidak seharusnya menolak laporan karena alasan identitas pelaku tidak diketahui. Sebab, kewajiban kepolisian adalah menerima laporan dan melakukan penyelidikan untuk mencari pelaku. “Tindakan Polda Aceh menolak mengeluarkan STBL karena pelakunya tidak diketahui sangat kita sayangkan. Polisi lah yang berhak mencari tahu,” ucapnya.

Kasus itu bermula saat korban sedang sendirian di rumah pada Ahad (18/10) siang. Saat itu seorang pria mengetok pintu rumahnya, ketika korban membuka pintu pelaku langsung membekap korban dan berupaya melakukan tindakan pemerkosaan.

Namun karena korban melawan dan berteriak, tetangga korban dan ibunya yang saat itu kebetulan pulang dari pasar langsung masuk ke dalam rumah untuk memastikan kondisi korban. Pelaku langsung melarikan diri saat aksinya tepergok. Kemudian, korban dan orang tuanya melaporkan hal itu ke kepala dusun tempat tinggal korban.

Qodrat mengatakan, jika peristiwa itu tidak ditangani dengan cepat, dipastikan pelaku akan melarikan diri atau keluar dari wilayah itu. Dia menduga pelakunya warga sekitar yang sudah mengetahui kondisi rumah korban.

Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol Winardy membantah pihaknya menolak mahasiswi yang hendak melaporkan ke polisi tentang upaya pemerkosaan. Menurut dia, masyarakat yang hendak melapor harus  divaksin terlebih dahulu. Setelah itu baru diperbolehkan.

Laporan masyarakat tidak ditolak, hanya masyarakat yang belum vaksin diarahkan untuk vaksin dulu setelah dapat sertifikat vaksin dan mengunduh aplikasi PeduliLindungi maka masyarakat dapat melaporkan kembali,” kata dia.#

Sumber: CNN Indonesia