Home Gaya Hidup Guratan Garis Kecemasan Karya Lukis Laila Tifah

Guratan Garis Kecemasan Karya Lukis Laila Tifah

265
‘Karbo II’ (2018) berupa 16 panel kanvas yang berisi potret seorang perempuan menghadapi berbagai ruang yang berisi hamparan lanskap berhiaskan berbagai citraan bentuk dalam berbagai warna cerah. Foto: Dok. Syam Terrajana.

Terasmedan—Sakit dan cemas, dua kondisi yang lama menghimpit Laila Tifah, pelukis kelahiran Yogyakarta 49 tahun lalu. Tekanan dua hal itu pula yang menghasilkan sejumlah karya dengan karakter khas seperti yang muncul pada pameran tunggalnya—yang kedua—bertajuk Sri di Jogja Gallery, Yogyakarta, 7 – 17 Februari 2021.

Karyanya dalam empat tahun terakhir dilatarbelakangi sakit diabetes yang menderanya. “Penyakit diabetes menimbulkan kecemasan terhadap diri sendiri. Kecemasan itu timbul baru beberapa tahun belakangan ini,” ujar Laila sebagaimana dikutip AA Nurjaman lewat tulisannya di dalam katalog pameran.


“Karbo I” (2018) berupa tiga bentuk satu figur yang kontras, satu figur bertubuh kurus berada di tengah dua figur bertubuh subur dengan latar lanskap dalam warna monokrom hijau dengan hamparan garis-garis yang dominan. Seperti sesuatu yang mau tak mau harus dipilih. Foto:Dok. Syam Terrajana.

Hingga suatu saat ada temannya—seorang dokter—mengingatkan agar jangan abai dengan penyakit ini karena sifatnya yang silent killer, menyerang organ tubuh lain. “Kekhawatiran akan masa depan, seperti misalnya hidup tapi tidak bisa berkarya lagi, masih punya anak kecil, bahkan bayangan kematian, pasti ada,” kata dia. 

Secara berangsur-angsur Laila Tifah dilanda efek yang bersumber penyakitnya: kecemasan. Saat dia menggali informasi tentang diabetes dari bahan bacaan atau berbincang dengan kawannya, juga tes kadar gula darah rutin dan kewajiban mengkonsumsi obat, justru membuat kecemasannya makin meningkat.

Laila pun harus diet dengan mengurangi konsumsi makanan yang sarat karbohidrat, mulai dari nasi hingga cemilan. “Makanan yang enak-enak itu mulai saya tinggalkan. Saya hanya bisa melukiskannya,” ujar Laila.

Hasilnya, karya bertajuk “Karbo I” (2018) berupa tiga bentuk satu figur yang kontras, satu figur bertubuh kurus berada di tengah dua figur bertubuh subur dengan latar lanskap dalam warna monokrom hijau dengan hamparan garis-garis yang dominan. Seperti sesuatu yang mau tak mau harus dipilih.

Pada  ‘Karbo II’ (2018) berupa 16 panel kanvas yang berisi potret seorang perempuan menghadapi berbagai ruang yang berisi hamparan lanskap berhiaskan berbagai citraan bentuk dalam berbagai warna cerah. Bentuk-bentuk itu seperti berada dalam lanskap yang dikepung kumpulan garis-garis mencitrakan gerakan dalam warna dominan hijau.

Kecemasan Laila makin menekan yang muncul lewat karya ‘Di Mana Bakcang’ (2020), berupa bentuk satu ruangan yang penuh berisi berbagai citraan bentuk makanan yang menggoda selera. Satu situasi yang menyiksa bagi pengidab diabetes. Sebaliknya pada karya bertajuk ‘Sederhana’ (2021) bak menggambarkan godaan selera itu musti dia  sembunyikan.

Toh Leila mengaku tidak ingin mengeksploitasi diabetes yang ada di tubuhnya ke dalam karya lukis. Dia juga mengaku tidak ingin terlihat  sebagai objek penderita karena penyakit ini. “Banyak orang bisa berjuang dan hidup berdampingan dengan penyakit ini, salah satunya Bapakku yang hidup dengan diabetes sekitar 40 tahun, tapi tetap bisa berkarya,” kata dia.

Laila Tifah adalah anak ketiga almarhum Nasjah Djamin (1924-1997), seorang sastrawan dan pelukis berdarah Minang kelahiran Perbaungan, Sumatra Utara. Sedang ibunya Umi Naftiah perempuan Jawa kelahiran Yogyakarta. Darah Minang dan Jawa dalam dirinya pada pameran ini muncul pada karya bertajuk “Setengah Minang” (2015), berupa sosok perempuan terbaring dengan mata terpejam. Tubuhya yang nyaris mensiratkan kepasrahan itu dililit berbagai motif batik berselang-seling dengan bentuk yang penuh garis-garis. 

Kumpulan garis adalah salah satu karakter karya lukis Laila Tifah, selain bentuk wajah yang mengesankan dingin tanpa ekspresi dengan nuansa mistis dan gelap. Pada karya lainnya dengan narasi sosial, citraan kumpulan garis juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari 35 karya lukisnya.#