Home Budaya Hotland Tobing: Dari Tarutung Mengusung Gambar

Hotland Tobing: Dari Tarutung Mengusung Gambar

318

Hotland Tobing menggarap karya drawing bertema kekerasan dalam perang, terorisme, lingkungan, hingga korupsi.

Terasmedan—Hotland Tobing dari tempat perantauannya di Jakarta kembali ke kota kelahirannya, Tarutung, Tapanuli Utara, ketika ayahnya meninggal pada 1999. Perupa lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada 1995 ini dalam suasana duka menyempatkan diri membuat karya drawing (gambar). Hotland menggarap karyanya kebanyakan menggunakan tinta di atas kanvas maupun kertas.

Dia mengeksplorasi bentuk organ tubuh manusia dan hewan secara menarik dengan mengangkat tema besar tentang kekerasan. Mulai dari isu perang, terorisme, lingkungan, hingga korupsi.

“Karya drawing saya mengulik masalah sosial membaca dan mencatat zaman. Perilaku negatif manusia seolah muncur ke zaman purba. Manusia tertawan harta, sifat materialistis mempertahankan tahta menjadikan korupsi,” katanya.

Pada karya Negeri Para Celeng (2012) dia menggambarkan kerumunan bentuk celeng (babi hutan) berdasi dalam berbagai posisi dengan tangan menjinjing tas yang biasa dibawa kaum eksekutif.

Sejumlah karyanya terinspirasi dari perang di Afganistan yang menyeret banyak anak muda Amerika Serikat dan Rusia bertempur di negeri itu (Bring Back Boys Home) yang menggambarkan sejumlah figur dalam posisi membungkuk bak sedang menghindari peluru justru saat mereka berselempang peluru sembari mengusung rudal dengan latar belakang gambar panser, granat dan senjata peledak lainnya.                                                                                 

Pada karya bertajuk Licifer Boat dia menampilkan bentuk ikan dengan tubuh berduri runcing yang sesak dengan tengkorak manusia sembari membawa rudal di bagian bawahnya. “Perang tidak hanya menghitung nyawa yang hilang, tapi menelorkan dendam kepada generasi ke generasi,” ujar Hotland.

Hotland menggunakan teknik drawing dengan warna monokrom (hitam-putih). Dia menekuni karya drawing dengan teknik arsir menumpuk. “Karya hitam-putih sangat mempesonaku, karena sangat kuat menampilkan figure, bentuk, dan lainnya. Hal ini menantang ketekunan saya,” katanya.#