Home Sepak Bola In Memoriam Ricky Yakob Striker Opurtunis Indonesia

In Memoriam Ricky Yakob Striker Opurtunis Indonesia

1077
Ricky Yacob, satu diantara legendaris sepakbola di zamannya. ist

Terasmedan – Publik sepakbola tanah air dapat dipastikan mengenal Ricky Yakob, striker langganan timnas era 80 hingga 90-an. Ujung tombak bergaya opurtunis ini membuat klub Liga Jepang, Matshusita, sekarang bernama Gamba Osaka kepincut.

Ricky Yakob putra asli Medan kelahiran 12 Maret 1963 tumbuh hingga remaja di kawasan Kampung Madras (Kp Keling) tak jauh dari Stadion Kebun Bunga home base PSMS Medan. Memulai karir sepakbola dari tim berkompetisi di PSMS Medan sebelum terjaring masuk PSMS Junior sekaligus menjuarai Suratin Cup 1980 yang hingga kini pencapaiannya belum terpecahkan juniornya di PSMS.

Menjuarai piala Suratin (1980) bersama, Juanda, Taufik Ashari, Syaiful Ramadhan, Musimin, Edi Harto, Benny van Breuklen dll dibawah asuhan pelatih Edi Simon, menjadi cikal bakal keoportunisan sebagai striker.

Tak ayal, gaya tersebut membuat Ricky Yakob melanglang buana dari satu rumput ke rumput lain dengan membela berbagai kesebelasan termasuk jenjang nasional. Pun begitu, Ricky Yakob tak sekalipun pernah melupakan Medan sebagai tanah kelahirannya kendati hingga akhir hayat berdomisili di Jakarta.

Mengandalkan kecepatan sebagai penyerang opurtunis disertai tubuh atletis dengan rambut gondrong, membuat Ricky Yakob sangatlah digandrungi pada era 90-an. Plus penampilan di Asian Games 1986 Korea Selatan dengan tendangan voli ke gawang UEA menjadikan gol terbaik di even tersebut.

Catatan lainnya kendati bukanlah ajang resmi, Ricky juga unjuk kebolehan memaksa PSV Eindhoven yang diperkuat Ruud Gulit, Ronald Koeman, Eric Gerets dll bermain imbang 3-3 ketika beruji coba dengan timnas Indonesia, dengan dua gol sumbangan Ricky Yakob.

Tidak hanya itu, sederet prestasi lainnya juga diciptakan Ricky Yakob hingga akhirnya memilih untuk pensiun sekitar tahun 1993. Bersama atlet lompat indah Indonesia, Harly Ramayani, pasangan ini memiliki dua putri dan satu cucu.

Kini striker opurtunis yang sempat diidolakan Kurniawan Dwi Julianto ini pergi untuk selamanya. Diduga terkena serangan jantung saat bertanding di Trofeo Medan Selection, Sabtu (21/11/2020), di Lapangan A Senayan.

Taufik Ashari rekan setim Almarhum Ricky Yakob di PSMS Junior melalui sambungan telepon mengaku sedang di Jakarta dan menyaksikan detik detik kepergian striker opurtunis itu.

“Dia biasa saja gak ada yang aneh sebelum bermain di Trofeo Medan Selection. Kami sempat ngobrol di parkiran sekitar sejaman gitu. Bahkan, ketika kemarin niat mau balik ke Medan, almarhum juga yang melarang sekaligus minta ditunda kepulangan abang ke Medan. Alasannya ya itu, dia ngajak kumpul kumpul sama kawan kawan pesepak bola dari Medan, biar ramai gitu dibilang almarhum,” ujar Taufik Ashari si pemilik tendangan full power.

Saat saat terakhir sebelum kepergian Ricky Yakob untuk selamanya tampil di Trofeo Selection Medan di Lapangan A Senayan, Sabtu (21/11/2020). Foto/Ist

Taufik Ashari mengisahkan kebersamaan mereka saat masih berputih abu abu hingga di PSMS Junior meninggalkan kesan indah. Meskipun, akhirnya Almarhum Ricky Yakob memilih berkarier di luar Medan namun persahabatan diantara mereka alumni PSMS Junior juara Suratin Cup 1980 hingga maut memisahkan tetap terjalin hangat.

“Tadi juga saat di parkiran ceritanya gak jauh jauh dari kesolidan kami di junior dulu. Mendiang begitu menggebu gebu menceritakan hal tersebut kepada rekan lainnya sebelum trofeo dimulai,” beber Ai sapaan Taufik Ashari.

Ai mengaku kejadian tersebut bagaikan mimpi, almarhum selepas mencetak gol sempat terhuyung ke Venard Hutabarat sebelum pingsan saat menuju lingkaran tengah. Tim medis dipersiapkan panitia coba memberikan pertolongan namun tsk dapat berbuat banyak walaupun sudah dilarikan ke RS Mintoharjo Jakarta.

Bersama rekan rekan lain seperti Marzuki Nyak Mad, Patar Tambunan, bahkan Berti Tutuarima, Rachmad Darmawan kami hantarkan mendiang ke peristirahatan terakhir sekitar 5 Km dari kediaman kawasan Bintaro.

“Kita tidak ada yang tahu tentang ajal anak manusia, tapi herannya mendiang begitu ngotot menahan agar abang jangan balik dulu ke Medan dan tetap di Jakarta saksikan trofeo medan selection dengan alasan agar dapat kumpul beramai ramai dengan kawan dari daerah asal,” ungkap Ai.

Almarhum Ricky Yakob merangkul sohib kental di PSMS Junior, Taufik Ashari, sebelum Trofeo Medan Selection. Foto/Ist

Sementara itu dari Medan, Juanda, kapten PSMS Junior menjuarai Suratin Cup 1980 bersama Almarhum Ricky Yakob menegaskan, saat terima informasi tentang kepergian kawan sekampung yang sudah seperti saudara sendiri itu cukup menghenyakkan.

“Betul betul terkejut. Soalnya, ada beberapa waktu sebelumnya lupa persisnya dia (Ricky) telpon dan mengulang kisah kami saat di junior dulu. Dia juga bilang, kalau kami begitu solid hingga saat ini walaupun sudah ditinggal dua rekan setim yakni Langkat Sembiring dan Herman,” beber Juanda.

Bahkan, sambung Juanda, ada rekan lainnya di Jakarta telpon menceritakan kalau almarhum Ricky Yakob suka cerita pengalaman bersama Juanda cs di junior dahulu. “Gak tahu juga kenapa, tapi ya gitulah kisahnya belakangan almarhum suka ngingat nostalgia kami dulu,” sebut dia.

Juanda pun tak mau bercerita lebih lanjut tentang rekan setim yang dianggap sudah seperti saudara tersebut, mengingat terlalu banyak kisah mereka alami mulai dari junior bersama di PSMS bahkan PSSI Junior juga PSMS Senior bersama Nobon Kayamuddin cs hingga sama sama bertekad merantau ke luar Medan bermain di tim Galatama, Arseto Solo.

Juanda kapten tim PSMS Junior ketika menjuarai Suratin Cup 1980 memiliki kedekatan dengan Alm Ricky Yakob. Foto/Ist

“Itulah, yang jelas sudah kayak saudara sendiri ya. Terlalu banyak kenangan, apapun yang terjadi sama dia (almarhum Ricky Yakob) selalu bercerita baik melalui telpon ataupun saat dia balik ke Medan,” tutup Juanda. (tema 002)