Home Uncategorized Kaleng Kerupuk Fotografi Sjaiful Boen

Kaleng Kerupuk Fotografi Sjaiful Boen

314
SJAIFUL BOEN | Get Through | Mixed media, resin | 72 potongan 70x90 Cm. Foto: Raihul Fadjri

Karya Sjaiful Boen tak lagi sekadar hasil potretan dengan kamera SLR yang dicetak di atas kertas, tapi menjangkau berbagai teknik dan media.

Terasmedan – Apa hubungan kaleng kerupuk dengan sosok Presiden Joko Widodo? Sebanyak 44 keleng kerupuk disusun secara vertikal dan horizontal yang disatukan dalam kerangka besi yang kukuh. Di bagian dalam kaleng itu tercetak potret Joko Widodo dari tampak samping. Di bagian atas ada tulisan: Sekarang Punya Presiden.

Instalasi kaleng kerupuk itu adalah salah satu karya Sjaiful Boen berjudul Now I Have President yang digelar pada pameran bertajuk Continew di Jogja Gallery, Yogyakarta, 2 September – 2 Oktober 2021. Pada karyaini dia menggunakan kaleng kerupuk tak cuma sebagai media, tapi juga sebagai metafora. Kaleng kerupuk melambangkan makanan sederhana khas Indonesia.

Dimanapun orang bisa mendapat kerupuk, mulai dari penjual kerupuk keliling, warung makan, warteg, rumah makan, restoran mahal, hingga hotel berbintang,” katanya.

Dia pun mengerucut pada narasi: “Jokowi adalah lambang kesederhanaan yang memasuki setiap lini kehidupan masyarakat.”

Ketika muncul isu tentang tiga periode jabatan presiden, narasi karya kaleng kerupuk itu terasa menjadi sangat politis. Tapi bagi seorang yang lahir dari kalangan minoritas secara etnis maupun agama, Sjaiful mengungkap sesuatu yang dia rasakan secara personal dalam kehidupan sosial-politik ketika muncul sosok Joko Widodo dalam pentas politik nasional.

SJAIFUL BOEN | Now I Have President | Instalasi 44 kaleng, cetak di atas plat Zink. Foto: Raihul Fadjri

Satu kerisauan bahkan ketakutan yang dirasakan kalangan minoritas yang muncul pada pemilihan presiden pada 2019 lalu, ketika pendukung pasangan calon No.2 mengusung politik identitas sedemikian rupa dalam perebutan kursi RI 1. Ironisnya setelah pasangan No.1 memenangkan pemilihan presiden dengan upaya habis-habisan para pendukungnya, Jokowi-Ma’ruf merekrut Prabowo-Sandi ke dalam kabinet.     

Toh Sjaiful Boen (Tanjung Karang, Lampung, 1970) sebagai minoritas  yang mendukung Jokowi-Ma’ruf, dia tidak punya pilihan. Dia tetap menggantungkan harapan pada Jokowi. Sebagaimana dia tetap berkarya menggunakan berbagai teknik dan media berbasis fotografi. Tapi karyanya tak lagi sekadar hasil potretan dengan kamera yang dicetak di atas kertas, dia menjangkau berbagai teknik dan media. Ini fenomena seni kontemporer, ketika fotografi menjadi salah satu teknik dalam proses kreatif pada ekspresi karya seni rupa bersanding dengan teknik lain yang sudah lebih dulu berkibar.

Sjaiful juga sempat mendalami teknik grafis di Fakultas Arts & Design di University of Alaska Anchorage yang pada pameran ini menghasilkan karya dengan paduan teknik fotografi dan teknik grafis dengan media yang tak biasa. Ada My Ego dalam warna monokrom, cetak di atas plywood dan resin, ada Mothers Pray dengan narasi pandemi Covid-19 dan Lust dengan teknik fotografi di atas kulit kayu. Pada karya Morning at Kelimutu Sjaiful mencetak di atas plastik transparan, sedang pada karya Zona Sjaiful bak mengingatkan masa lalu fotografi dengan citraan film negatif.  

SJAIFUL BOEN | 100 Faces In History | Cukil MDF, resin. Foto: Raihul Fadjri

Dia juga masuk lebih dalam lagi ke dunia grafis lewat teknik cukil dan resin dengan menggarap 110 potret tokoh dunia dari berbagai bidang, dari politisi hingga seniman, dari agamawan hingga aktivis.

Sebagai orang yang berangkat dengan teknik fotografi konvensional dia juga menampilkan sederet potret wajah (36×36 sentimeter) yang dicetak di atas media –plywood dan resin—yang tak biasa dalam dunia fotografi konvensional, dalam warna monokrom hitam-putih yang mengesankan dunia lawas.

Puncaknya, pada karya bertajuk Get Through dia menyusun 72 potongan  (cetak di atas plat Zink, mixmedia dan resin, masing-masing 70×90 sentimeter) yang membentuk citraan dua pasang tangan menahan beban di atasnya, melebar dalam ukuran gigantik memenuhi bagian atas dinding hingga lantai ruang pamer.

Continew adalah ajektif yang aktif dan terus berproses. Yang masih akan terus berkelana. Berpetualang melanjutkan eksperimennya,” tulis Oscar Motuloh, dalam konsep kuratorial pameran Continew.#