Home Budaya Keberagaman dalam Pameran Kelompok 9

Keberagaman dalam Pameran Kelompok 9

140
Karya Totok Bukhori bertajuk| Bila Kata Tak Lagi Punya Makna (2018) dalam pameran di Taman Budaya Yogyakarta. (Foto: Raihul Fadjri)

Terasmedan—Ketika pandemi menggerogoti semua segi kehidupan, sembilan pelukis tak mau menyerah. Mereka tampil dengan semangat di depan publik lewat pameran bertajuk Derap, 20 – 26 Februari 2021 di ruang pamer Taman Budaya Yogyakarta. “Meski situsasi pandemik Covid-19 (pameran) tetap kita selenggarakan secara mandiri. Semangat berkesenian menyatukan kita bersembilan,” ujar Totok Buchori.

Yang menarik, pameran ini mengusung konsep pameran tunggal bersama. “Tiap pribadi bebas menampilkan ekspresi pada karyanya sesuai konsep masing-masing, dan tiap seniman mendapat ruang,” kata Totok.

Tiap seniman memamerkan sedikitnya enam karya dengan berbagai corak dan teknik yang diletakkan berjejer di ruang (dinding) masing-masing dengan penanda gambar potret sang pelukis. Mulai dari corak realis (Totok Buchori, Rismanto, Soegian Noor, Yohana Mulyo), abstrak (Firdaus Musthafa, Johnny Gustaaf), dekoratif (Watie Respati, Sigit Handari, Lully Tutus). 

Nama-nama itu punya durasi pengalaman estetik dan latar belakang pendidikan dan profesi yang berbeda. “Pelukis yang tergabung dalam Kelompok 9 ini punya latar belakang pendidikan dan profesi yang berbeda. Tapi perbedaan itu tak menciptakan kesenjangan atau strata kelas,” tulis Alex Luthfi dalam kurasi pameran ini.  

Totok Buchori (1959) menampilkan karya lukis bertarikh lawas bercorak realisme (Bakul Lombok Barat | 2002) yang menampilkan suasana pasar rakyat. Tapi dia juga menampilkan corak surealisme (Dia Amat Dekat | 2006) berupa suasana pasar rakyat dari sudut penglihatan mata burung dengan sosok figur yang melayang di atasnya, tangan terentang seperti citraan Yesus disalib. Totok yang merupakan pengurus kelompok legendaris Sanggar Bambu juga menampilkan karya hiper-realis berupa  figur dirinya dengan pantominer Jemek Supardi.  

Lully Tutus – Home Sweet Home #4 – 2020. Foto-foto: Raihul Fadjri

 Sedang Rismanto selain menampilkan subject matter kereta api yang sudah dikenal publik seni rupa, juga meletakkan citraan kereta api dalam lanskap yang monokromatik (Penetrating Time | 2020; Menyusuri Kaki Bukit#1 | 2020). Adapun Soegian Noor (1966) mengeksplorasi teknik cat air yang menghasilkan jejak visual yang bening lewat karya seri bertajuk Garis Imajiner. Pada karya ini Soegian menampilkan narasi sumbu imajiner Yogyakarta (Gunung Merapi, Tugu, Malioboro, Keraton, Panggung Krapyak, dan pantai Parang Tritis). Pada karyanya dengan subject matter Keraton Yogyakarta tampak awan gelap bergelung-gelung di bagian atas, bak menggambarkan situasi Keraton Yogyakarta yang sedang dirundung konflik internal. 

Pada karya bercorak abstrak ekspresionis, Firdaus Mustafa (1973) dan Johnny Gustaaf (1988) melakukan pendekatan yang berbeda. Firdaus mengeksplorasi sapuan kuas yang terbatas dengan cat yang tebal sehingga menimbulkan tekstur dalam warna-warna cerah antara lain pada karyanya bertajuk Sunny Day (2021) dan Tan Kinira (2021). Sedang Johnny Gustaaf mengimbuhi hamparan brush stroke abstrak dan garis-garis dengan bentuk rumah, hewan, potret wajah, dan goresan teks dalam komposisi warna-warna cerah (Coffee Break #8 |2020 ; Home Sweet Home#3 | 2020). 

Adapun pada karya bercorak dekoratif, tiga pelukis mengolah bentuk-bentuk figur. Sigit Handari (1976) melakukan deformasi dalam karya lukis yang sarat dengan berbagai bentuk manusia yang bersifat karikatural. Ada manusia mengenakan jas lengkap tapi berkepala babi dikerumuni sekumpulan figur dengan gigi mrongos (Narator dan Eksekutor|2019), atau bentuk dua naga yang juga dikerumuni sekumpulan figur dengan bentuk gigi yang sama (Perayaan Bersama|2021). 

Elemen dekoratif diolah maksimal oleh Lully Tutus (1980) secara imajinatif yang mengangkat alam mimpi ke dalam karyanya yang penuh warna (Menjemput Impian | 2020; The Traeler | 2020; Wanita Bermahkota Bunga 2020). Sedang Watie Respati (1968) dengan penuh semangat mengolah elemen dekoratif dalam berbagai corak. Ada yang berupa lanskap alam berbaur dengan elemen narasi sejarah lewat potret figur perempuan (Pejuang Seorang Kalinyamat | 2021; Ratu Pejuang Sejati | 2021). Yang menarik, Watie Respati juga memajang karyanya yang semata-mata mengolah elemen dekoratif pada seri karyanya bertajuk Face Cat | 2020 dalam 15 panel berukuran kecil (15 x 15 Cm) dan karya lukis bercorak abstrak dekoratif (Rumah di Atas Awan#1 | 2019). Semangat semacam ini yang dibutuhkan saat pandemi yang tak kunjung berakhir ini.#