Home Budaya Keren! Ekspansi Noken Papua Ke Chiang Mai, Thailand

Keren! Ekspansi Noken Papua Ke Chiang Mai, Thailand

274
Moelyono antara lain menampilkan sejumlah lukisan yang menggambarkan bentrokan antara pekerja pabrik dengan aparat kolonial. RFx

Perupa Moelyono memamerkan karya lukisnya di Museum Seni Kontemporer Thailand.

Terasmedan-Moelyono memboyong karyanya bertajuk Noken (akrilik, plat tipis di atas kanvas, noken, 2016 – 2018) pada pameran keliling bertajuk  A beast, a god, and a line. Pameran yang dikurasi Cosmin Costinas ini berlangsung di Museum Seni Kontemporer MAIIAM, Chiang Mai Thailand, 14 November 2020-26 Maret 2021. “Noken merupakan representasi beban kerja mama-mama di Papua,” ujar Moelyono. Mama-mama adalah panggilan akrab untuk ibu rumah tangga di Papua.

Noken merupakan perangkat yang tak terpisahkan dari kehidupan perempuan tradisional Papua. Bentuknya berupa tas dari bahan benang hasil ketrampilan merajut kaum perempuan pedalaman di Papua. “Noken dipakai perempuan untuk bekerja ke ladang, pasar, beribadah, pada acara ritual, perayaan, hingga pesta di rumah,” ujar Moelyono, kelahiran Tulungagung, Jawa Timur, 1957. Penggunaannya dengan cara dua ujung pegangan diletakkan di tengah kepala untuk mengangkat beban isi apa saja, seperti: hipere (ubi jalar), sayuran, pisang, matoa, buah pinang, kayu bakar, bayi, pakaian, bahkan anak babi.

Kaum perempuan Papua tinggal di Honai perempuan yang digunakan untuk memasak, pendiangan, melahirkan, kandang babi, tempat tidur bersama anak. Pada dini hari, perempuan melepas dan memberi makan babi, memasak untuk suami dan anak, mengurus anak, tanam atau bersihkan ladang, panen, ke pasar, mencari alang alang atap Honai. Di sela waktu senggang di mana saja, selalu dua tangan para perempuan, spontan terampil merajut Noken.

Lihat juga: Hotland Tobing: Dari Tarutung Mengusung Gambar

Sepanjang usia hidup para perempuan Papua dengan noken yang menjadi beban berat, mereka memanggul noken tiap hari di atas kepala. Tradisi itu merepresentasikan ketidak setaraan pembagian kerja perempuan didalam konstruksi budaya patriarkhi. “Ini merefleksikan ironisnya hak hidup perempuan Papua di atas tanah dengan gemerlap butiran emas,” kata Moelyono.

Karya lukis Noken itu sebagai hasil keberadaan Moelyono di Papua atas undangan lembaga swadaya WVI(Wahana Visi Indonesia) sebagai konsultan dan fasilitator program Early Childhood Care and Development (ECCD). “Program ini upaya pengembangan masyarakat dengan pintu masuk pendidikan anak usia emas, 0-5 tahun,’ kata Moelyono, perupa lulusan Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) ASRI Yogyakarta.

Lihat juga: EKSPLORASI PATUNG SPIDERMAN TIMBUL RAHARDJO

Pada program itu Moelyono melatih mama-mama belajar modul dengan alat mengajar media budaya lokal berupa ketrampilan, kerajinan, tarian, cerita, dongeng, lagu, dan material lokal. “Kemudian mama-mama menjadi pengajar untuk anak-anak di desa mereka,” ujarnya. Kegiatan itu berlangsung di ruang sekolah yang dibangun penduduk desa dan diberi nama: Honai Anak. Program berlangsung di Wamena pada 2005-2007, dan dilanjutkan di Jayapura dan Sentani pada 2010-2015.

Moelyono juga dikenal sebagai perupa yang banyak mengeksplorasi kehidupan budaya kalangan masyarakat bawah kaitannya dengan narasi sosial-politik. Pada pameran bertajuk Amok Tanah Jawa di Langgeng Art Foundation Yogyakarta 20 Mei-21 Juli 2017, dia mengenksplorasi budaya pertunjukan Ludruk dalam konteks ekonomi-politik kolonial. Moelyono antara lain menampilkan sejumlah lukisan yang menggambarkan bentrokan antara pekerja pabrik dengan aparat kolonial, pengantin bersepeda dengan iring-iringan musik.#