Home Headline Kisah Lima Sosok Penyandang Tunarungu Jadi Orang Sukses

Kisah Lima Sosok Penyandang Tunarungu Jadi Orang Sukses

22
Angkie Yudistia, staf khusus Presiden Joko Widodo, penyandang tunarungu. Foto/ist

Keterbatasan dalam pendengaran membuat sejumlah tunarungu bangkit dan meraih prestasi.

Terasmedan – Nama Menteri Sosial Tri Rismaharini kembali jadi  perbincangan publik ketika video dirinya beredar di media sosial saat meminta anak penyandang tunarungu berbicara tanpa memakai bahasa isyarat dalam acara Hari Disabilitas Internasional 2021 yang digelar pada Rabu (1/12).

Menteri Risma pun menuai kritik dari warganet. Tapi bekas Wali Kota Surabaya itu menegaskan tak ada niat memaksa. Dia menjelaskan, permintaannya itu hanya untuk memastikan apakah yang bersangkutan menyandang tunarungu atau hanya tunawicara.

Terlepas dari kejadian itu, banyak sosok penyandang tunarungu tumbuh menjadi orang yang hebat, salah satunya Angkie Yudistia, yang ditunjuk Presiden Joko Widodo menjadi staf khusus presiden. Ada sejumlah penyandang tunarungu yang menjadi orang sukses. Ini kisah mereka.

1. Angkie Yudistia

Pada usia 10 tahun, Angkie mengalami demam tinggi, akibat obat antibiotic yang membuat dirinya kehilangan fungsi pendengaran. Dia harus menerima kenyataan menjadi tunarungu.

Memiliki keterbatasan pendengaran membuat Angki Yudistira bangkit. Bahkan kini dia menjadi salah satu staf khusus presiden yang ditunjuk  Presiden Joko Widodo. Wanita kelahiran Medan ini juga dikenal sebagai pendiri Thisable Enterprise.

Banyak mencetak prestasi, dia didapuk menjadi salah satu finalis Abang None Jakarta pada 2008. Angkie Yudistia juga menulis buku berjudul Perempuan Tunarungu, Menembus Batas.

Surya Sahetapy, pembicara pada World Congress of The World Federation of The Deaf.

2. Surya Sahetapy

Nama Panji Surya Putra Sahetapy, atau yang lebih dikenal dengan Surya Sahetapy adalah putra artis Dewi Yul. Dia seorang aktivis Tuli, juru bahasa isyarat dan aktor asal Indonesia. Surya menjadi salah satu penggerak organisasi GERKATIN (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia).

Meski divonis penyandang tungarungu sejak lahir, Surya pernah jadi pembicara di VII World Congress of The World Federation of The Deaf di Istanbul, Turki.

Pada 2018 Presiden Joko Widodo merekrut Surya Sahetapy sebagai salah satu staf khusus kepresidenan. Namun, saat yang sama Surya meraih beasiswa studi di Amerika Serikat. Presiden meminta Surya menyelesaikan pendidikannya untuk kemudian bergabung dengan staf khusus kepresidenan.

Rafi Ridwan, desainer termuda di Indonesia dan dunia.

3. Rafi Ridwan

Pemilik nama lengkap Rafi Abdurrahman Ridwan (18) itu dikenal sebagai desainer yang namanya telah mendunia. Rafi penyandang tungarungu yang menjadi desainer termuda di Indonesia dan dunia.

Karyanya pernah dipakai oleh Tyra Banks pada America’s Next Top Model hingga Michelle Obama. Pada 2017 saat usianya masih 15 tahun, Rafi ikut  memamerkan koleksinya pada El Paso Fashion Week 2017 di Texas Amerika Serikat. Rafi Ridwan menghadirkan busana dengan sentuhan motif dan kain tradisional yaitu tenun NTT dan Papua.

Mandy Harvey, musisi dan penyanyi dan musisi jazz

4. Mandy Harvey

Mandy Harvey adalah musisi yang kehilangan pendengarannya ketika berusia 18 tahun. Kala itu, dia mengalami connective tissue disorder atau penyakit pada jaringan ikat yang membuat sarafnya memburuk hingga akhirnya kehilangan pendengaran. Wanita kelahiran 2 Januari 1988 ini awalnya dikenal karena penampilannya yang memukau di panggung America’s Got Talent (AGT).

Ditemani ukulele, Mandy yang saat itu berusia 29 tahun memukau empat juri, yakni Simon Cowell, Heidi Klum, Mel B, dan Howie Mandel. Mandy Harvey dapat membuktikan dirinya bisa menyanyi dengan indah hingga mendapat banyak pujian. Kini, dia telah menelurkan berbagai karya yang dapat dinikmati banyak orang. Mandy pun telah menjadi musisi dan penyanyi jazz yang sukses.

Scott Tankersley, pelatih softball Bushland.

5. Scott Tankersley

Seorang pelatih olahraga di salah satu sekolah menengah Texas melawan stigma disabilitas sebagai seorang yang tuli sejak berumur tiga tahun. Bagi seorang tuli, Scott Tankersley sering menyerah pada impiannya.

Kemudian semakin dewasa ia justru membuktikan ketika menerima semua penolakan untuk menjadi pelatih, namun dengan sebuah peluang, ia sukses membawa kejuaraan tim dari lima olahraga berbeda dalam 40 tahun terakhir dia menjabat sebagai kepala pelatih softball Bushland.

Bahkan setelah setiap kejuaraan yang dia menangkan dalam 40 tahun terakhir itu, orang yang masih meragukannya mengatakan padanya bahwa dia tak akan pernah menjadi pelatih. Tapi penolakan dan hinaan yang menimpa dirinya, dia jadikan sebagai motivasi.

Kini Scott Tankersley merupakan salah satu dari beberapa pelatih paling sukses dalam rekor menang dan memberi dampaknya di berbagai olahraga. Scott memiliki cara unik memotivasi pemainnya lewat berbagai pengalaman hidupnya.

Sumber: Liputan6