Home Headline Konflik Papua, Dewan Gereja: 60 Ribu Penduduk Mengungsi

Konflik Papua, Dewan Gereja: 60 Ribu Penduduk Mengungsi

37
Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat. Foto/ist

Banyak anak-anak dan ibu menjadi korban dan meninggal dunia saat pengungsian.

Terasmedan – Dewan Gereja Papua menyebut sekitar 60 ribu penduduk Papua mengungsi akibat konflik bersenjata antara TNI-Polri dengan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) yang masih terjadi di enam kabupaten. “Sekitar 60 ribu orang lebih umat Tuhan telah mengungsi,” kata anggota Dewan Gereja Papua, Pendeta Benny Giay dan tiga pendeta lain dalam keterangan resmi yang dikutip Jumat (26/11).

Benny mengatakan, pihaknya mencatat, memasuki pertengahan November 2021 pemerintah makin gencar melakukan politik rasisme, kriminalisasi, marjinalisasi, dan militerisme dalam menangani konflik di Papua.

Benny menjelaskan, pada 21 November 2021, konflik antara TNI-Polri dengan TPNPB masih terjadi di enam kabupaten, yakni Intan Jaya, Pegunungan Bintang, Nduga, Yahukimo, Maybrat, dan Puncak Papua.

Menurut Benny, aparat gabungan TNI-Polri masih menyisir permukiman warga sipil dengan alasan mencari anggota Tentara Pembebasan. Akibatnya, banyak warga Papua memilih mengungsi di hutan maupun kabupaten tetangga.

Banyak anak-anak dan ibu menjadi korban dan meninggal dunia saat pengungsian,” katanya.

Benny dan tiga pendeta lainnya, yakni, Andrikus Mofu, Dorman Wandikbo, dan Socratez S. Yosman menjelaskan lebih rinci kondisi di tiap kabupaten itu. Benny membeberkan, di Intan Jaya konflik bersenjata telah terjadi sejak 25 Oktober 2019. Sebanyak 28 peristiwa terjadi dalam dua tahun terakhir dan menelan 47 korban meninggal dan luka-luka.

Sebanyak 31 warga sipil Papua dan non Papua terdampak dengan rincian 16 meninggal, 12 orang luka-luka, dan tiga warga Intan Jaya menjadi korban penculikan. Sementara, sebanyak tujuh anggota TNI-Polri meninggal dan tujuh orang lainnya mengalami luka tembak. Selain itu, dua anggota Tentara Pembebasan dinyatakan meninggal.

Lebih dari 3.000 orang mengungsi di Gereja dan di wilayah terdekat. Jumlah aparat gabungan TNI dan Polri terus diperbanyak di Kabupaten Intan Jaya,” tutur Benny.

Konflik juga terjadi di pegunungan Bintang atau Kiwirok yang mengakibatkan tenaga kesehatan meninggal.

Menurut Benny, pada pekan kedua bulan Oktober lalu aparat TNI-Polri diduga menjatuhkan bom mortar di permukiman yakni, kampung Pelebib, Kampung Kiwi, Kampung Delpem dan Kampung Lolim. Akibatnya, ribuan orang mengungsi di hutan.

Sekitar 5.000 orang penduduk setempat telah mengungsi di hutan dan kampung terdekat serta menyeberang ke negara tetangga, Papua New Guinea,” ujar Benny.

Di Maybrat, Dewan Gereja Papua mencatat setelah penyerangan Pos Koramil Distrik Kisor pada 2 September lalu, sebanyak 2.768 jemaat gereja mengungsi di Kabupaten Maybrat. Gereja mendapat laporan 34 orang menjadi korban kekerasan dan penangkapan aparat dengan rincian, 31 orang ditangkap,dan diperiksa; dua orang ditahan dan diperiksa, dua  orang diintimidasi.

Dari total 31 orang yang telah ditangkap dan ditahan untuk diperiksa, 8 orang telah ditetapkan sebagai tersangka dan masih ditahan,” kata Benny.

Dari delapan orang yang ditetapkan sebagai tersangka, lima orang merupakan pelajar, empat di antaranya berusia anak.”

Di Yahukimo, Benny dan tiga pendeta lainnya tidak menyebutkan jumlah penduduk yang mengungsi. Tapi, di kabupaten itu terjadi rentetan kontak senjata antara aparat dengan pasukan Tentara Pembebasan.

Di Kabupaten Puncak, Benny menyebut sekitar 3.000 orang lebih dari 23 desa mengungsi. Hingga saat ini, kata Benny, sekitar 16 warga sipil menjadi korban penembakan dan pembunuhan.

Benny juga melaporkan, sejak  Kepala Badan Intelijen Papua, Brigadir Jenderal TNI, I Gusti Putu Danny Nugraha Karya ditembak hingga meninggal, pemerintah menambah aparat gabungan TNI-Polri di Kabupaten Puncak Papua.

Berdasarkan laporan data Dewan Gereja, jumlah pengungsi paling banyak terdapat di Kabupaten Nduga. Akibat konflik yang telah berlangsung selama tiga tahun di wilayah ini, 47 ribu jemaat mereka telah mengungsi. Sekitar 295 warga sipil dilaporkan meninggal.

Selain akibat ditembak oleh aparat keamanan, sebagian besar dari mereka meninggal dunia selama pengungsian karena tidak tersedianya makanan dan obat-obatan,” ujar Benny.#

Sumber: CNN Indonesia