Home Hukum Moeldoko Tunggu Maaf ICW Sebelum Lapor Polisi soal Ivermectin

Moeldoko Tunggu Maaf ICW Sebelum Lapor Polisi soal Ivermectin

114
Kepala Staf Presoden, Moeldoko. Foto: Ist

Terasmedan – Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko meminta Indonesia Corruption Watch (ICW) membuktikan tuduhan keterlibatan dirinya dalam bisnis obat Ivermectin dan impor beras. Jika ICW tidak bisa membuktikan, maka harus meminta maaf secara terbuka dan mencabut pernyataan. Apabila ICW tidak mampu melakukan itu semua, Moeldoko akan mengajukan laporan ke kepolisian.

“Kalau dalam 1×24 jam sejak press release ini kami sampaikan, ICW dan saudara Egi tidak membuktikan tuduhannya, tidak mau mencabut pernyataannya, dan tidak bersedia minta maaf kepada klien kami secara terbuka, dengan sangat menyesal kami akan laporkan kasus ini kepada yang berwajib,” kata Kuasa hukum Moeldoko, Otto Hasibuan, Kamis (29/7).

Otto mengklaim Moeldoko masih memberikan waktu kepada ICW untuk membuktikan tuduhannya agar tidak dianggap sewenang-wenang selaku pejabat negara. Tapi, jika ICW tidak melakukan itu semua dalam 1×24 jam, maka langkah hukum akan diambil.

“Supaya fair, supaya Pak Moedoko tidak dianggap melakukan kekuasaan, melakukan sewenang-wenang, seakan-akan antikritik, dengan ini, saya meminta, memberi kesempatan pada ICW dan kepada Egi 1×24 jam untuk membuktikan tuduhannya,” kata Otto.

Sebelumnya, ICW mengungkap keterlibatan sejumlah politikus dalam peredaran obat terapi Covid-19 Ivermectin. Salah satu nama yang disebut ICW adalah Kepala Staf Presiden Moeldoko.

ICW menemukan dugaan keterkaitan anggota partai politik, pejabat publik, dan pebisnis dalam penggunaan obat Ivermectin untuk menanggulangi Covid-19. Nama Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko dan politikus PDIP Ribka Tjiptaning Proletariyati disinggung dalam temuan ICW.

“Perusahaan [PT Harsen Laboratories] punya relasi dengan sejumlah pihak di antaranya dengan politikus dan pejabat publik,” ujar Peneliti ICW, Egi Primayogha dalam diskusi ‘Berburu Rente di Tengah Krisis’ yang dilaksanakan secara daring, Kamis (22/7).

PT Harsen Laboratories diketahui jadi sorotan publik setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyidak gudang perusahaan. BPOM menduga perusahaan tersebut telah melakukan produksi ilegal obat Ivermectin dengan merek dagang Ivermax 12.

Egi mengatakan, PT Harsen Laboratories punya sejumlah pengurus di antaranya Herman Sunaryo, pasangan suami istri Haryoseno-Runi Adianti, Iskandar Purnomohadi, dan Sofia Koswara. Sofia memiliki afiliasi dengan PT Noorpay Perkasa. Ia disebut sebagai direktur dan pemegang saham perusahaan itu.

“PT Noorpay Perkasa punya keterkaitan dengan KSP Moeldoko. Salah satu pemilik saham PT Noorpay selain Sofia adalah Joanina Rachma, anak Moeldoko. Joanina menjadi pemegang saham mayoritas. Dia juga diketahui sebagai tenaga khusus/ahli di KSP,” terang Egi.

“Keterkaitan Sofia dengan Moeldoko juga terlihat di beberapa kesempatan, di antaranya adalah ketika PT Noorpay Perkasa bekerja sama dengan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dalam hal ekspor beras. Moeldoko sebagai ketua umum HKTI,” sambungnya.

Moeldoko membantah informasi yang dikeluarkan ICW ihwal keterlibatannya dalam bisnis obat Ivermectin. “Itu tuduhan ngawur dan menyesatkan,” kata Moeldoko lewat keterangan tertulis, Kamis (22/7).#

Sumber: CNN Indonesia