Home Budaya Narasi Sastra Rupa di Atas Kanvas Susilo Budi Purwanto

Narasi Sastra Rupa di Atas Kanvas Susilo Budi Purwanto

336
KELAHIRAN | Oil on Canvas | Detil | 2021. Foto-foto: Raihul Fadjri.

Lewat sejumlah figur berkepala tokoh wayang golek, Susilo Budi Purwanto merespon narasi dalam cerita panjang karya Sindhunata.

Terasmedan – Ketika berada di ruang pamer Bentara Budaya Yogyakarta pengunjung bak sedang berada di alam sureal, di tengah 25 karya lukis Susilo Budi Purwanto dalam pameran bertajuk Sukrosono, 28 September – 7 Oktober 2021. Pria kelahiran Magelang, Jawa Tengah, pada 26 Juli 1966 ini lewat sejumlah figur berkepala tokoh wayang golek merespon narasi cerita panjang karya Sindhunata, bertajuk Anak Bajang Mengayun Bulan.

Dalam buku itu tokoh utamanya Sukrosono, (dalam cerita wayang Bambang Sukasrana) tokoh pewayangan yang berwujud raksasa bertubuh kecil (bajang) tapi berhati baik dan hidupnya disia-siakan. Sukrosono punya saudara tua kembarannya, Sumantri (dalam cerita wayang Bambang Sumantri), dengan penampilan berbeda: tampan dan berfisik sempurna.

Karya seni rupa saya merupakan visualisasi dinamika hubungan mereka (Sukrosono dan Sumantri) yang mewarnai kisah di buku itu,” ujar Susilo.

DIANTARA LANGIT DAN BUMI | Oil on Canvas | 2020 – KALADARU DAN TUNJUNG BIRU | Oil on Canvas | 2021

Susilo menggarap karya lukisnya dengan teknik hiper-realis yang sejalan dengan citraan khas wayang golek kegemarannya. Dari Kembar Yin-Yang (2020) yang menggambarkan sang ibu, Dewi Sukowati (dalam cerita wayang bernama Dewi Darini), sedang mengandung jabang bayi kembar berkulit hitam putih, berlanjut ke Kelahiran (2021), saat keduanya keluar dari rahim sang ibu bak anak ayam menetas dari telur, hingga Swarga Jati (2021) saat sang ibu, sang ayah Resi Swandagni dan Sumantri menatap ke bawah melihat Sukrosono yang ukuran tubuhnya separo dari tubuh ketiga darah dagingnya itu dalam suasana melambung di atas kepulan awan putih.

Perjalanan hidup Sukrosono dan Sumantri muncul dalam berbagai tema, dari tema lingkungan (Hutan Jatirasa, 2021; Sahabat Hutan, 2021; Burung Kepodang, 2021, Taman Sriwedari, 2021), tema spiritualitas (Pertemuan dengan Semar, 2020: Bertapa di Pucuk Pedang, 2021), hingga kematian Sukrosono diujung busur panah saudara kembarnya Sumantri (Di antara Langit dan Bumi, 2021) berupa sosok Sukrosono dengan anak panah menancap di dada, tubuh itu melayang di antara awan dan segumpal tanah. Mautpun menjemput saudara kembarnya, Sumantri saat bertempur dengan Dasamuka.

Tanpa memahami dunia pertunjukan wayangpun penonton pameran tetap bisa sepenuhnya menikmati karya lukis Susilo lewat elemen rupa yang dia eksplorasi.

Tema-tema dalam karya lukis Susilo itu merupakan bagian cari kisah dalam buku karya Sindhunata: Anak Bajang Mengayun Bulan. Menurut Sindhunata, saat buku itu dalam proses penyelesaian, dia berfikir sangat ideal bukunya juga berisi ilustrasi. Menurut dia, Susilo adalah pelukis yang tepat untuk itu, dan Susilo menyanggupinya.

TAMAN SRIWEDARI | Oil on Canvas | 2021

Semula Susilo merespon setiap bab buku itu dengan karya sketsa, tapi dia tidak puas dan kemudian mengeksplorasi lewat karya lukis. “Susilo terus mendalami naskah saya, memilih bagian yang menarik baginya, lalu menuangkan idenya ke atas kanvas,” tulis Sindhunata dalam katalog pameran.

Lebih dari setahun Susilo memindahkan naskah cerita Sindhunata ke kanvas. “Saya heran kok bisa saya menyelesaikannya. Mungkin pandemi yang sepi ini ikut membantu saya,” ujar Susilo.

Menurut Sindhunata yang juga dikenal sebagai rohaniawan itu, proses estetik Susilo merupakan tafsiran terhadap figur wayang dalam bukunya. “Saya bilang pada Susilo, jangan hanya sekadar membuat ilustrasi bagi tulisan saya, buatlah karya yang bisa memperkaya tulisan saya,” katanya. Bahkan, ujar Sindhunata, jika dilepas dari bukunya, karya Susilo bisa dinikmati secara tersendiri.

Lebih dari itu, menurut Sindhunata, bukunya tidak sekadar buku sastra, tapi sekaligus sastra-rupa. “Seni sastra menjadi lebih kaya karena berpadu hidup dengan seni rupa.”#