Home Headline Perjanjian Ekstradisi Diteken, Koruptor Ini Pernah Kabur Ke Singapura

Perjanjian Ekstradisi Diteken, Koruptor Ini Pernah Kabur Ke Singapura

24
Banyak koruptor dari Indonesia kabur ke Singapura (ilustrasi). Foto/ist

By RFX – 26 Januari 2022

Komisi Pemberantasan Korupsi menyebut Singapura menjadi surga para koruptor.

Terasmedan – Indonesia dan Singapura resmi menandatangani perjanjian ekstradisi. Kegiatan itu berlangsung di Bintan, Kepulauan Riau, Selasa (25/1). Perjanjian ekstradisi dinilai bermanfaat untuk mencegah dan memberantas tindak pidana yang bersifat lintas batas seperti korupsi, narkotika, dan terorisme.

Singapura sering kali disebut sebagai tempat pelarian untuk koruptor. Bahkan, KPK menyebut Singapura menjadi ‘surga’ para koruptor. Beberapa koruptor tercatat sempat dan masih bersembunyi di sana.

1. Harun Masiku

Harun Masiku ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi karena diduga menyuap mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU), Wahyu Setiawan. Masiku ingin jadi pengganti Nazarudin Kiemas yang lolos ke DPR, namun meninggal dunia.

Mantan calon anggota DPR dari PDI Perjuangan ini diduga menyiapkan uang sekitar Rp 850 juta agar bisa melenggang ke Senayan. Ia buron sejak Januari 2020. Catatan Ditjen Imigrasi Kemenkumham, Harun meninggalkan Indonesia pada 6 Januari 2020 dan menuju ke Singapura.

Sampai saat ini keberadaan yang bersangkutan belum terdeteksi. Beberapa mantan penyelidik dan penyidik KPK bahkan sempat menyebut Harun sempat kembali ke Indonesia.

2. Djoko Tjandra

Saat berada di luar negeri, termasuk Singapura, Djoko Tjandra berstatus terpidana kasus hak tagih (cessie) Bank Bali. Ia buron selama 11 tahun hingga ditangkap di Malaysia pada Kamis, 30 Juli 2020.

Djoko sempat bersiasat kembali ke Indonesia tanpa harus menjalani pidana 2 tahun penjara sebagaimana putusan Mahkamah Agung (MA) atas kasus cessie Bank Bali.

Ia menyuap dua jenderal polisi, Irjen Pol Napoleon Bonaparte dan Brigjen Pol Prasetijo, dalam kasus pengecekan status red notice dan penghapusan nama dari daftar pencarian orang (DPO), serta menyuap Jaksa Pinangki Sirna Malasari untuk pengurusan fatwa Mahkaman Agung.

Berdasarkan putusan MA, ia divonis 4,5 tahun penjara. Selain itu, Djoko juga dihukum 2,5 tahun penjara dalam kasus surat palsu.

3. Muhammad Nazaruddin

Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat ini terjerat kasus suap pembangunan Wisma Atlet SEA Games di Palembang pada 30 Juni 2011.

Nazaruddin selalu mangkir ketika dipanggil KPK dan sudah berada di luar negeri saat ia ditetapkan sebagai tersangka.

KPK memasukkan Nazaruddin ke daftar pencarian orang. Selama pelariannya, Nazaruddin diketahui sempat berada di beberapa negara seperti Singapura, Vietnam, Malaysia, dan Filipina. Ia ditangkap Interpol di wilayah Cartagena, Kolombia, pada 6 Agustus 2011.

Nazaruddin divonis 13 tahun penjara atas dua kasus korupsi. Selain suap Wisma Atlet, ia juga terlibat dalam kasus gratifikasi dan pencucian uang. Ia resmi bebas murni pada 13 Agustus 2020.

4. Nunun Nurbaeti

NUNUN terlibat dalam kasus suap cek perjalanan dalam pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia pada 2004. Selama menyandang status tersangka, Nunun kabur ke sejumlah tempat, termasuk Singapura, hingga dimasukkan ke dalam Daftar Pencarian Orang. Ia buron sejak Februari 2011.

Nunung ditangkap KPK di Thailand pada Desember 2011 atas kerja sama dengan Kepolisian Thailand.

Pada 9 Mei 2012, istri dari mantan Wakil Kepala Polri Komjen (Purn) Adang Darajatun itu divonis 2,5 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat.

Ia terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi dengan memberi suap ke sejumlah anggota DPR 1999-2004 dalam pemenangan Miranda S. Goeltom sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia 2004.

5. Gayus Tambunan

GAYUS terlibat kasus suap pajak yang bernilai miliaran Rupiah. Selama pelariannya, ia sempat berada di Singapura hingga akhirnya bisa dibawa ke Indonesia untuk menjalani hukuman 7 tahun penjara. Dalam menjalani masa tahanan, Gayus membuat kontroversi. Ia kedapatan sempat ke Singapura hingga menonton pertandingan tenis di Nusa Dua, Bali, dengan menyamarkan identitas menggunakan rambut palsu dan kacamata.

Dua jenderal polisi, jaksa, pengacara, konsultan pajak, dan mantan pejabat terseret kasus yang menjerat Gayus. Beberapa di antaranya bahkan harus divonis bersalah dan dipenjara, yakni Jaksa Cirus Sinaga.

6. Eddy Sindoro

Chairman PT Paramount Enterprise Internasional, Eddy Sindoro, ditetapkan KPK sebagai tersangka kasus dugaan suap saat mengajukan peninjauan kembali (PK) ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Itu terjadi sekitar November 2016.

Eddy sudah menghilang sejak dipanggil sebagai saksi dalam kasus itu pada Mei 2016. Saat itu dua panggilan penyidik KPK tak digubris Eddy tanpa keterangan yang jelas.

Sekitar November 2017, Eddy terlacak dan diduga mencoba melakukan perpanjang paspor Indonesia di Myanmar. Sejak akhir 2016 hingga 2018, Eddy diduga berpindah ke sejumlah negara, mulai dari Thailand, Malaysia, Singapura, hingga Myanmar.

Pada Agustus 2018 Eddy sempat dideportasi ke Indonesia. Namun, ketika tiba di Bandara Soekarno Hatta pada 29 Agustus 2018, ia justru terbang ke Bangkok, Thailand. Selang dua bulan, Eddy berada di Singapura. Eddy lantas menyerahkan diri ke KPK melalui Atase Kepolisian RI di Singapura. Dia divonis 4 tahun penjara.

7. Paulus Tannos

Direktur Utama PT Sandipala Arthaputra, Paulus Tannos, ditetapkan KPK sebagai tersangka kasus dugaan korupsi proyek e-KTP pada Agustus 2019. KPK mengaku kesulitan memproses hukum yang bersangkutan karena tinggal di Singapura.

Namun, dengan perjanjian ekstradisi Indonesia-Singapura, KPK berharap penanganan perkara ke depan menjadi lebih mudah. KPK akan berkoordinasi lebih lanjut dengan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dan Kementerian Luar Negeri.

Bagaimana kemudian penanganan perkara yang sedang kami lakukan penyidikan ini diharapkan bisa selesai, bagaimana kemudian tersangka (Paulus Tannos) juga bisa dilakukan pemeriksaan ataupun saksi-saksi yang tidak berada di Indonesia juga nanti bisa dikoordinasikan lebih lanjut,” ujar Juru Bicara Penindakan KPK, Ali Fikri, Selasa (25/1).

8. Maria Pauline Lumowa

Pelaku pembobolan Bank BNI senilai Rp 1,2 triliun ini ditangkap pada 2019 dan dilakukan ekstradisi dari Serbia ke Indonesia pada Juli 2020. Selama pelariannya, ia tinggal di Belanda dan sempat transit di Singapura. Maria sudah divonis 18 tahun penjara.

9. Bambang Sutrisno

Mantan Komisaris Bank Surya ini telah divonis pidana penjara seumur hidup terkait kasus penyelewengan dana BLBI pada 2003. Negara mengalami kerugian sedikitnya Rp1,5 triliun dari kasus itu.

Persidangan dilakukan secara in absentia atau tanpa kehadiran terdakwa. Hingga saat ini, Bambang Sutrisno masih berkeliaran bebas. Berdasarkan catatan persidangan tahun 2003, Bambang disebut ada di Singapura.

10. Samadikun Hartono

Samadikun merupakan mantan Komisaris Utama PT Bank Modern yang divonis bersalah karena terbukti melakukan korupsi dana BLBI sebesar Rp 169 miliar. Ia divonis empat tahun penjara dan diwajibkan mengembalikan uang korupsinya oleh Mahkamah Agung.

Samadikun sempat kabur dan menjadi buron sejak tahun 2003 atau tak lama setelah vonis dijatuhkan. Singapura menjadi salah satu tempat pelariannya. Saat ini, Samadikun telah mencicil uang pengganti yang dibebankan kepadanya.

11. Anton Tantular dan Hendro Wiyanto

Anton dan Hendro merupakan terpidana kasus Bank Century. Mereka bersama Hartawan Aluwi terbukti melanggar tindak pidana pencucian uang dan penipuan terhadap 1.100-an nasabah PT Antaboga.

Anton dan Hendro sudah divonis 14 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Agustus 2015.

Sumber: CNN Indonesia