Home Budaya Seni Rupa Nandur Srawung Paska PPKM Level 4

Seni Rupa Nandur Srawung Paska PPKM Level 4

269
MAHENDRA PAMPAM | Unity | Hardboard cut, Printing ink, acrylic on wood board | 135x170 cm | 2020. Foto-foto: Raihul Fadjri

Karya lukis pada pameran Nandur Srawung lebih bebas menafsirkan konsep koratorial.

Terasmedan – Karya dua dimensi yang disuguhkan pada pameran  tahunan Nandur Srawung ini lebih bebas menafsirkan konsep koratorial pameran ini. Pameran bertajuk Ecosystem: pranatamangsa, di Taman Budaya Yogyakarta pada 10 – 19 September 2021, ini mengeksplorasi berbagai corak, teknik dan media. Dari karya lukis di atas kanvas, di atas benda fungsional, karya seni serat, hingga karya grafis.

Ada karya lukis Diko ADP (Morning Time, 2021; Beautiful Day, 2021) dengan blok-blok warna cerah dengan garis-garis dan bentuk sederhana yang menyenangkan mata. Sebaliknya karya lukis Onar (The Legend Never Die, 2021) bak menggambarkan benturan citraan bentuk tengkorak manusia yang kelam dikitari bentuk ikan hias yang penuh warna.

Bahkan karya lukis Ajar Ardianto (Indomie, Indomaret, Indonesia, 2021)      menggunakan idium populer dengan mengusung narasi tentang formalisme yang menjadi pemandangan sehari-hari lewat pakaian seragam di banyak sektor kehidupan, mulai dari yang berbau pasar (Indomie, Indomaret), birokrat, hingga aparat keamanan. Narasi itu muncul lewat lukisan potret figur mengenakan pakaian seragam pegawai Indomaret, pegawai negeri, dan aparat keamanan. 

YAYAT LESMANA | Sang Petualang | Acrylic on canvas | 2021 – DIKO ADP | Beautiful Day | Mixed media on canvas | 2021

Adapun karya lukis Antino Restu Aji (The End of The Horizon, 2021) dengan cara tidak biasa membagi kanvas menjadi tiga bagian terpisah dengan membaurkan bentuk imajinatif dan abstrak dengan bentuk representasional dalam komposisi warna yang menarik. Sedang lukisan karya Yayat Lesmana (Sang Petualang2021) menampilkan sosok figur bertelanjang dada sembari memegang dayung duduk di ujung perahu. Masker penyaring udara menutup sekujur kepala dan wajahnya bak orang yang sedang berada di zona udara penuh gas beracun.

Dengan lebih hemat Iwan Sri Hartoko (Hurry Up or I Will Shoot, 2021) menghadapkan bentuk bekicot yang berjalan merayap lamban bak menikmati tiap langkahnya dengan bentuk tank tempur yang siap menghancurkan apapun yang ada di depannya. “Menembak atau ditembak,” ujar Iwan yang kerap memakai idium militer pada karyanya.

Baca Juga: Nandur Srawung Eksplorasi Media Tiga Dimensi

Dengan teknik dan media berbeda, Suparyanto Bofag menyuguhkan tiga karya seni serat dengan teknik bordir berupa betuk-bentuk figur imajinatif dalam warna monokrom. Adapun Mahendra Pampam (Unity, 2020) menampilkan karya grafis dengan teknik cukil kayu yang menggambarkan sekelompok figur dengan penampilan berbeda. “Harmoni justru terbentuk karena adanya ketidakseragaman,” ujar Mahendra tentang narasi karyanya.

AJAR ARDIANTO | Indomie, Indomaret, Indonesia | 4 panel | 2021

Helmi Fuadi justru menabrakkan suasana hatinya dengan bahasa ungkap yang lebih lugas (Menunggu Rindu, 2021) dalam konteks situasi pandemi Covid-19. Dia menyusun potongan kertas yang dia buat menjadi bentuk huruf dan disusun menjadi satu kalimat: Mampus Kau Dikoyak-koyak Rindu. Susunan huruf itu yang nyaris menutup semua bidang kanvas termasuk citraan bentuk orang hutan yang mengenakan masker. Manusia dalam situasi pandemi ini terpaksa mengontrol perasaannya yang hanya bisa dia sampaikan ke orang lain secara tidak langsung.#