Home Budaya UNIK..! ANEKA SAYUR DI RUANG PAMERAN FOTOGRAFI

UNIK..! ANEKA SAYUR DI RUANG PAMERAN FOTOGRAFI

260
Seniman fotografi Anang Saptoto mengusung belasan poster berupa foto perempuan desa dalam pameran bertajuk “Sayur, Seni, Segar” di Asmara Art And Coffee Shop, Jalan Tirtodipuran 22 Yogyakarta, 13-27 November 2020. Foto: RFx

Kerjasama Fotografer dengan perempuan petani sayur untuk membuka wawasan tentang pertanian dan memasarkan produk pertanian.

Terasmedan—BAGAIMANA ketika seniman fotografi berkolaborasi dengan petani sayur memasarkan hasil panen? Seniman fotografi Anang Saptoto mengusung belasan poster berupa foto perempuan desa dalam pameran bertajuk “Sayur, Seni, Segar” di Asmara Art And Coffee Shop, Jalan Tirtodipuran 22 Yogyakarta, 13-27 November 2020.

Yang menarik, pameran ini tak sekadar menampilkan karya fotografi, tapi merupakan bagian dari kampanye ketahanan pangan penduduk desa. “Ini adalah platform kerjasama untuk membangun rantai distribusi hasil panen dan membuka wawasan mengenai pertanian, melalui kerja-kerja seni dan desain,” ujar Anang Saptoto.

Lihat saja foto ibu Parjiem yang mengenakan kerudung bewarna coklat, sedang bagian bawah tubuhnya dengan teknik kolase tertutup daun terong yang hijau dan jamur bewarna putih kecoklatan. “Saya mencoba membuat kolase fotografi dengan sumer dokumentasi potret diri masing-masing anggota KWT dengan imbuhan tanaman yang mereka tanam,” kata Anang. Dia mempertahankan muka para ibu KWT dengan harapan orang dapat mengenali satu persatu wajah mereka.

Parjiem, penduduk Desa Brosot, Kulon Progo, Yogyakarta ini sehari-hari menggarap sawah, dan menanami halaman rumahnya dengan bebagai macam sayuran antara lain terong, kacang panjang, dan jamur. Sayuran itu dalam waktu tertentu dia setorkan ke e-warong (warung gotong royong) melalui KWT Langgeng Makmur.

KWT (Kelompok Wanita Tani) Langgeng Makmur adalah kelompok perempuan petani yang mengelola lahan pekarangan mereka dengan ditanami sayuran di Desa Jatirejo, Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Mesti tidak semua memiliki lahan bertani yang luas, mereka tetap berupaya menanam di pekarangan rumah.

Menurut Anang, kegiatan petani sangat terorganisir dan aktif dalam gerakan menanam di pekarangan rumah. “Ada yang menanam sayur, buah-buahan, dan tanaman hias. Tak sedikit dari mereka yang melakukan budidaya ikan, jamur, ternak,” kata Anang.

Pada karya foto lain, Anang menampilkan seorang perempuan mengendong anaknya dan disebelahnya ada seorang anak perempuan. Perempuan itu, Sumarsih, mengenakan pakaian kerudung di bagian atas dengan buah gori di bagian bawah. Begitu pula anak perempuannya. Sumarsih yang harus menutup warung yang ada di depan satu SMA gara-gara pandemi, mulai menanam bibit sayuran yang diperoleh dari KWT.

Atau foto Hardini mengenakan kerudung hijau berhiaskan daun ketela berukuran jumbo di bagian bawahnya. Hardini mengikuti kegiatan KWT untuk menambah pengetahuan dan memperluas jaringan pemasaran sayurannya. Menurut Anang, seluruh pihak yang bekerjasama dengan KWT tidak ada ikatan khusus. Mereka juga berinteraksi tak hanya soal jualan. “Lebih dari sekadar transaksional. Kami mengagendakan kegiatan untuk mempublikasikan dan membuka wawasan kerja-kerja pertanian melalui bentuk-bentuk artistik,” kata Anang.

Pada karya foto lain, Anang memotret seorang perempuan berkacamata, Yuliana Safitri, di dalam ruang yang berisi deretan kandang ayam. Mbak Fitri, panggilan akrabnya, berdiri dengan tubuh bagian bawah berupa dua telur ayam. Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ini memang beternak ayam kampung petelur, selain menanam sayuran di pekarangan rumahnya. Yang menarik, semua tanaman sayurannya diimbuhi nama latin.

Ini pameran Anang yang kedua dalam proyek yang sama. Pameran pertama di Ruang MES 56, satu kelompok seniman fotografi di Yogyakarta—Anang salah satu anggotanya. Pameran ini memberi informasi kepada publik tentang upaya penduduk pedesaan yang juga terdampak pandemi korona saat ini bertahan hidup. “Dengan membuka seluas-luasnya informasi mengenai apa yang telah dikerjakan oleh ibu-ibu KWT, maka semakin besar pula peluang baik ke depan untuk berjejaring dan membuka kesempatan kerjasama dengan pihak yang lebih luas,” ujar Anang.#  (tema-006)